The effects of benzil amino purin (BAP) and gibberellin with in vitro seedling growth of pulesari (Alyxia reinwardtii Bl)

Heru Sudrajad, Didik Suharto, Harto Widodo

Abstract


Latar belakang: Status kelangkaan pulesari (Alyxia reinwardtii Bl.) termasuk rawan (vulnerable) karena tingginya permintaan dan mahalnya harga menyebabkan eksploitasi pulesari di hutan meningkat sedangkan upaya konservasi dan budidayanya belum ada. Selama ini perbanyakan pulesari hanya mengandalkan biji di alam. Benih pulesari persentase perkecambahannya tergolong sangat rendah, waktu lama dan sulit diperbanyak secara vegetatif. Memperhatikan sulitnya mendapatkan bibit pulesari secara konvensional maka perlu dilakukan dengan cara kultur jaringan.

Metode: Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu selama tiga bulan. Bibit A. reinwardtii Bl. diperoleh dari Pringgondani Forest, Tawangmangu. Biji kupas dan dikeringkan selama lima hari, dicuci menggunakan aquadest steril, direndam pada 0,5% Agrept 5 menit kemudian pada 2,125% natrium hipochorida 5 menit dan dibilas menggunakan aquades steril. Media Murashige dan Skoog (MS) disiapkan sesuai komposisi. Penelitian ini rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP pada konsentrasi 3, 4 dan 5 mg/l dan faktor kedua konsentrasi giberelin dari 1, 2 dan 3 mg/l. Media MS yang dimodifikasi dengan penambahan BAP konsentrasi 3, 4, dan 5 mg/l dan giberelin konsentrasi 1, 2, dan 3 mg/l sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan zat pengatur tumbuh BAP  mg/l dan giberelin 2 mg/l pada media MS terbentuk tunas dan akar. Tunas terbentuk pada 30 hari setelah tanam dengan tinggi 2 cm dan akar muncul pada 45 hari setelah tanam dalam satu kali percobaan.

Kesimpulan: Pulesari (Alyxia reinwardtii Bl.) dapat diperbanyak melalui kultur jaringan menggunakan biji sebagai eksplan.

Kaca kunci : pulesari, Alyxia reinwardtii Bl, BAP dan giberelin


Abstract

Background: Alyxia reinwardtii Bl. in natural habitat becomes rare and reaches vulnerable status. The high price and high market demand made the over harvested beyond regeneration capacity of the plant while the conservation efforts are terribly limited. Presentage of seed germination is not only very low but also time consuming, therefore we conducting preliminary study on in vitro propagation using  seed  Alyxia reinwardtii Bl.

Methods: The research was conducted in laboratory tissue culture of Medicinal Plant and Traditional Medicine Research and Development Center Tawangmangu for three months. Seeds of A. reinwardtii Bl. obtained from Pringgondani Forest, Tawangmangu Central Java.  Seeds were peeled and air dryed for five days, washed using steril aquadest, soaked on 0.5% Agrept (5 minutes) then on 2.125% sodium hypochloride (5 minutes) and rinsed using sterile distilled water. This study uses a Murashige and Skoog (MS) with a completely randomized design (CRD) factorial design.. The first factor is   BAP at a concentration of 3, 4, 5 mg.L-1 and the second factor is giberelin concentration of 1, 2, 3 mg.L-1. MS media  with addition of BAP the concentration of 3, 4, 5 mg.L-1 and gibberellin the concentration of 1, 2, 3 mg.L-1 obtained 9 treatment combination.

Results: The results showed the combination treatment of growth regulators BAP (4 mg.L-1) and giberelin (2 mg.L-1) is formed shoots and roots. The shoots were formed  30 days after planting with a height of 2 cm and the roots appear at 45 days after planting.

Conclusion: Pulasari (Alyxia reinwardtii Bl.) can be propagated through tissue culture using seeds as explants.

Keywords: pulesari, Alyxia reinwardtii BI, BAP and giberelin

 


Keywords


Keywords: pulesari, Alyxia reinwardtii Bl, BAP and giberelin

References


Kurdi A. Cara Pengolahan dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. (citated 17 November 2016). Available from https://www.academia.edu/11934123/Tanaman Herbal Indonesia Cara Mengolah Dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. 2010

Pribadi, Rini, E. Pasokan dan Permintaan Tanaman Obat Indonesia serta Arah Penelitian dan Pengembangan. Perspektif.2009;58(1):52-64.

Hussein, Ibrahim R, Kiong ALP, et al. Multiple Shoot Formation of Important Tropical Mediclinal Plant, Alyxia reinwardtii Bl. Biotechnol.2005;22:349-351d.

Sandra E. Teknologi Kultur Jaringan Merupakan Andalan Dalam Menghadapi Pasar Bebas Asean (Masyarakat Ekonomi Asean). (citated 17 November 2016). Available from https://id-id.facebook.com/notes/edhi-sandra/teknologi-kultur-jaringan-merupakan-andalan-dalam-menghadapi-pasar-bebas-asean-m/10152436932056535. 2014.

Habir D, Sukmadjaja, Mariska I. Aplikasi Kultur Jaringan Dalam Produksi Bibit pada Beberapa Industri. Proseding Forum karya Ilmiah, Balitbangtan. Balitbangtri. Bogor. 1992.

Anonim. Konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Pada Pertumbuhan Kultur Endosperm Biji Mahkota Dewa. (citated 17 November 2016). Available from http://epzna.blogspot.co.id/2011/03/konsentrasi-zat-pengatur-tumbuh-zpt.html. 2011.

Saupe SG. Plant Growth Substances/Hormones (citated 26 May 2016). Available from http://employees.csbsju.edu/ssaupe/biol327/.2009.

Su YH, Liu YB, Zhang XS. Auxin–Cytokinin Interaction Regulates Meristem Development. Mol Plant. 2011;4(4):616-25.doi:10.1093/mp/ssr007

Danso KE, Ayeh KO, Aduro V, et al. Effect of 6-Benzylaminopurine and -Naphthalene Acetic Acid on In Vitro Production of MD2 Pineapple Planting Materials. World Applied Sciences Journal. 2008;3(4):614-19.

Nurul H. Induksi Tunas In Vitro Jeruk Siam (Citrus nobilis Lour.) Asal Kampar Dari Eksplan Tunas Apeks Dan Nodus In Vitro . JOM FMIPA 2012 ; 1(2):Volume 1 No. 2 2014 275-281

Widiyana T. Media Kultur Jaringan. (citated 3 Okt 2016). Available from http://tatik-widiyana.blogspot.co.id/2013/04/media-kultur-jaringan.html. 2013.

Anonim. Fungsi Hormone Auksin, Sitokinin, Giberelin, dan Asam Absisat. (citated 17 November 2016). Available from https://rumahhujau.wordpress.com/2012/05/08/fungsi-hormone-auksin-sitokinin-giberelin-dan-asam-absisat. 2012.

Gunawan LW. Teknik Kultur Jaringan. Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman. Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 1987.

Sudrajad H. Upaya Pembibitan Biji Sarang Semut (Myrmecodia Pendans) dengan Kultur Jaringan. Jurnal Agroekonomika.2012;1(1):47-51.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


---

Health Science Journal of Indonesia

p-ISSN: 2087-7021
e-EISSN: 2338-3437

Published by : Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Visitor of HSJI: View HSJI Stats


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

Health Science Journal of Indonesia has been indexed by :