Status Kerentanan Larva Aedes aegypti terhadap Temefos (Organofosfat) di Tiga Kabupaten/Kota Provinsi Aceh

Mara Ipa, Joni Hendri, lukman Hakim, Rizky Muhammad

Abstract


Abstract. Dengue haemorrhagic fever (DHF) incidence rate in Aceh Province for the past three years 2012-2014 were fluctuated from 51‰, 29 ‰ and 45 ‰. The most widely used larvacide to control larvae Ae. aegypti is temefos, in Indonesia 1% temefos (abate 1SG) started used in 1976, and since 1980 has been used for the eradication program of Ae. aegypti larvae. The intensive use of temefos will be not a problem until population were dominated by resistant individuals. The purpose of this study was to determine the status of susceptibility of Ae. aegypti larvae against temefos in three dengue fever endemic areas in Aceh. We conducted an observational study to examine the susceptibility of Ae. aegypti population in 3 districts of Aceh Province: Banda Aceh, Lhokseumawe and Aceh Besar. Entomological survey and larval collection was assigned. Larvae then reared in laboratory until third generation. Third and early fourth instars stage of Ae. aegypti larvae were used as test samples. Susceptibility test was undergo based on World Health Organization guidelines. Results shows that larva Ae. aegypti from Banda Aceh (100%) and Lhokseumawe (99%) districts was still susceptible, while Aceh Besar (97%) indicates tolerance to temefos 0,02%. In conclusion, temefos still effective to be used as larvicide for vector control in those three endemic of dengue fever in Aceh Province. The priority vector control program that can be suggested is put mosquito breeding place eradication called PSN as a proactive movement in community.

Keywords: Aedes aegypti, temefos, susceptibility, insecticide, Aceh

Abstrak. Angka insidensi demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Aceh tahun 2012-2014 berturut turut 51‰ menurun 29 ‰ dan meningkat kembali 45 ‰. Penggunaan larvasida temefos 1% (abate ISG) untuk mengendalikan larva Aedes aegypti sudah digunakan oleh program sejak 1976. Penggunaan larvasida tidak akan menjadi masalah sampai suatu populasi didominasi oleh individu-individu yang resisten. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan status kerentanan larva Ae. aegypti terhadap temefos di tiga kabupaten/kota endemis DBD di Provinsi Aceh. Penelitian observasional ini menggunakan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Mei-Juni 2015 dengan lokasi penelitian di tiga Kabupaten/Kota yang tersebar di Provinsi Aceh, yaitu Kota Lhokseumawe, Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Survei larva Ae. aegypti dilakukan pada 100 rumah terpilih di setiap kab/kota dengan pengamatan pada kontainer yang dapat menampung air di dalam dan luar rumah. Larva Ae. aegypti yang diperoleh kemudian dipelihara sehingga didapatkan nyamuk generasi ketiga. Spesimen uji yang digunakan adalah larva instar III dan atau IV awal berdasarkan metodologi WHO. Hasil uji terhadap temefos 0,02 ppm menunjukkan bahwa larva Ae. aegypti dari semua wilayah yang diteliti Kota Lhokseumawe (100%) dan Banda Aceh (99%) masih rentan kecuali di Kabupaten Aceh Besar (97%) sudah toleran terhadap insektisida tersebut. Kesimpulan penelitian adalah temefos masih layak digunakan sebagai larvasida dalam pengendalian vektor di tiga kabupaten/kota endemis DBD di Provinsi Aceh. Upaya pengendalian yang lebih utama diterapkan adalah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai gerakan proaktif di masyarakat.

Kata Kunci: Aedes aegypti, kerentanan, insektisida, temefos, Aceh


Keywords


Aedes aegypti, temefos, susceptibility, insecticide, Aceh

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Aspirator (Journal of Vector-borne Disease Studies, p-ISSN: 2085-4102 e-ISSN: 2338-7343) is published by Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Ministry of Health of Republic of Indonesia.

Main Indexing :

More...

View Aspirator Stats

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.