Re-Transmission Assessment Survey Filariasis Pasca Pengobatan Massal di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat Tahun 2016

Santoso Santoso, Sri Cahyaningrum

Abstract


ABSTRAK

Kabupaten Agam telah selesai melakukan pengulangan pengobatan selama 2 tahun, sehingga perlu dilakukan Re-TAS. Re-TAS dilakukan terhadap murid Sekolah Dasar kelas 1 dan 2 yang ada di Kabupaten Agam. Desain survei dengan menggunakan klaster sekolah. Jumlah sekolah yang terpilih sebanyak 40 SD. Pemilihan sampel sekolah dilakukan dengan menggunakan metode survey sample builder (SSB). Seluruh murid kelas 1 dan 2 di sekolah terpilih diperiksa dengan menggunakan Brugia Rapid test untuk menilai adanya antibodi spesifik terhadap cacing Brugia malayi maupun B. timori. Jumlah murid yang terdaftar sebanyak 1.999 anak, sedangkan yang diperiksa dengan RDT sebanyak 1.717 anak. Sebanyak 282 murid tidak hadir pada saat pemeriksaan atau menolak untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan mendapatkan 3 positif, 1.694 negatif, 20 invalid dan 3 sampel dikeluarkan karena hasil pemeriksaan kedua negatif. Jumlah sampel yang diperhitungkan untuk menilai penularan filariasis sebanyak 1.697, yaitu hanya sampel positif dan negatif. Hasil survei mendapatkan bahwa sampel minimal sudah terpenuhi dan jumlah anak positif di bawah cut off point, sehingga Kabupaten Agam dinyatakan lulus TAS 1.

Kata kunci: filariasis, POPM, TAS, endemisitas

ABSTRACT

Agam District finished the repetition of Filariasis treatment for 2 years, so Agam must be conducting the Re-TAS. Re-TAS was conducted on elementary school students grade 1 and 2 in the district of Agam. Survey design using the school cluster. The number of schools selected were 40 schools. Selection of the sample schools were calculated using sample survey builder (SSB). All students grades 1 and 2 in selected schools were examined using Brugia Rapid test to assess the presence of specific antibodies against Brugia malayi and B. timori worms. The  number of students who registered as many as 1,999 children, while being examined by RDT as many as 1,717. A total of 282 students were absent during the examination or refused to be examined.Test results showed that 3 positive, 1694 negative, 20 invalid and 3 samples were excluded. The number of samples taken into account to assess the transmission of filariasis as many as 1,697, which is only positive and negative samples. The survey found that the minimum sample was adequate and the number of positive children under the cut of point, so Agam passed TAS 1.

Keywords: filariasis, MDA, TAS, endemicity



Keywords


Filariasis; POPM; TAS; Endemisitas

References


Menteri Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1582 Tentang Pedoman 1. Subdit Filariasis dan Kecacingan. Data endemisitas filariasis di Indoesia sampai dengan bulan Juli 2014. Jakarta; 2015.

Kemenkes RI. Penentuan dan evaluasi daerah endemis filariasis. in: pedoman eliminasi filariasis di Indonesia. Pedoman penentuan dan evaluasi daerah endemis filariasis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2012:1-47.

Subdit Filariasis dan Kecacingan. Laporan hasil TAS Kabupaten Agam Tahun 2012. Jakarta; 2012.

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Laporan kegiatan pengobatan massal filariasis Kabupaten Agam. Lubuk Basung; 2016.

Depkes RI. Pedoman program eliminasi filariasis di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal PP & PL, Depkes RI; 2008.

Santoso, Saikhu A, Taviv Y, Yuliani RC, Mayasari R, Supardi. Kepatuhan masyarakat terhadap pengobatan massal filariasis di Kabupaten Belitung Timur Tahun 2008. Bul Penelit Kesehat. 2010;38(4):185-97.

Santoso, Yenni A, Oktarina R, Wurisatuti T. Efektivitas pengobatan massal filariasis tahap ll menggunakan kombinasi dec dengan albendazole terhadap prevalensi Brugia malayi. Bul Penelit Kesehat. 2015;18(2):161-68.

Wahyudi BF, Pramestuti N. Kondisi filariasis pasca pengobatan massal di Kelurahan Pabean Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan. BALABA. 2016;12(1):55-60.

Dewi RM, Tuti S, Ganefa S, et al. Brugia rapidTM antibody responses in communities of Indonesia in relation to the results of “Transmission Assessment Surveys” (TAS) for the lymphatic filariasis elimination program. Parasit Vectors. 2015;8(499):1-6. doi:10.1186/s13071-015-1093-x.

Rebollo MP, Bockarie MJ. Editorial rapid diagnostics for the endgame in lymphatic filariasis elimination. Am J Trop Med Hyg 2013;89(1):3-4. doi:10.4269/ajtmh.13-0202.

Santoso, Supranelfy Y. Karakteristik dan perilaku masyarakat berkaitan dengan filariasis di Kabupetan Muaro Jambi. J Ekol Kesehat. 2013;12(4):286-94.

Santoso, Yenni A, Rahayu KS. Studi kualitatif peran lintas sektor, petugas dan kader pada kegiatan pemberian obat massal pencegahan filariasis di kabupaten Tanjung Jabung Timur. J Pembang Mns. 2015;9(2):1-20.

Santoso, Yenni A, Oktarina R, Wurisatuti T, Rahayu KS. Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat pasca pengobatan dan pengaruhnya terhadap endemisitas filariasis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Spirakel. 2015;7(1):14-26.

Pratamawati DA, Alfiah S. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat berdasarkan riwayat filariasis di Desa Sokoraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas Tahun 2013. Spirakel. 2016;8(1):11-20.

Hodges MH, Sonnie M, Turay H, Conteh A, Maccarthy F, Sesay S. Maintaining effective mass drug administration for lymphatic filariasis through in-process monitoring in Sierra Leone. Parasit Vectors. 2012;5(1):1. doi:10.1186/1756-3305-5-232.

Patanduk Y, Yunarko R, Mading M. Penerimaan masyarakat dan cakupan pengobatan massal filariasis di Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya. Bul Penelit Sist Kesehat. 2016;19(2):157-63.

Santoso, Taviv Y. Situasi filariasis setelah pengobatan massal di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Bul Penelitian Kesehat. 2014;42(3):153-60. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/view/3620/3569.

Graves PM, Makita L, Susapu M, et al. Lymphatic filariasis in Papua New Guinea: distribution at district level and impact of mass drug administration, 1980 to 2011. Parasit Vectors. 2013;6(7):1-18. doi:10.1186/1756-3305-6-7.

Ambarita L, Taviv Y, Sitorus H, Pahlepi RI, Kasnodihardjo. Perilaku masyarakat terkait penyakit kaki gajah dan program pengobatan massal di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari, Jambi. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2014;24(4 Des):191-98. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/3673.

Yahya, Santoso. Studi endemisitas filariasis di wilayah Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari pasca pengobatan massal tahap III. Bul Penelit Kesehat. 2013;41(1):18-25.

Sitorus H, Ambarita LP, Arisanti M, Manalu HS. Pengetahuan tokoh masyarakat dan kader kesehatan tentang program eliminasi filariasis limfatik di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. ASPIRATOR. 2016;8(2):93-100.

Ipa M, Astuti EP, Hakim L, Fuadzy H. Analisis cakupan obat massal pencegahan filariasis di Kabupaten Bandung dengan pendekatan model sistem dinamik analysis of filariasis mass drug administration coverage through dynamic system model in Bandung Regency. BALABA. 2016;12(1):31-8.

Pramono MS, Maryani H, Wulandari P. Analisisi kasus penyakit filariasis di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam dengan pendekatan metode Zero Inflated poisson (ZIP) regression. Bul Penelit Sist Kesehat. 2014;17(1):35-44.

Astuti EP, Ipa M, Wahono T, Ruliansyah A. Analisis perilaku masyarakat terhadap kepatuhan minum obat filariasis di tiga desa Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung Tahun 2013. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2014;24(4):199-208.

Santoso, Taviv Y, Yahya, Mayasari R. Pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang filariasis. Bul Penelit Sist Kesehat .2014;17(2):167-76.

Santoso. Hubungan faktor lingkungan fisik dengan kejadian filariasis di Indonesia. J Ekol Kesehat.2014;13(3):210-18.

Santoso, Yahya, Suryaningtyas NH, Pahlepi RI, Rahayu KS. Studi bioekologi nyamuk Mansonia spp vektor filariasis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Vektora. 2016;8(2):71-80.

Yunarko R, Patanduk Y. Distribusi filariasis Brugia timori dan Wuchereria bancrofti di Desa Kahale, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. BALABA. 2016;12(2):89-98.

Willa RW. Situasi filariasis di Kabupaten Sumba Tengah Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2012;22(22):1.

Santoso. Faktor risiko filariasis di Kabupaten Muaro Jambi. Bul Penelit Kesehat. 2013;41(3):152-62.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


BALABA was indexed by:

Visitor Number : View My Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License