Keanekaragaman Jenis dan Perilaku Nyamuk pada Daerah Endemis Filariasis di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan

Juhairiyah Juhairiyah, Syarif Hidayat, Budi Hairani, Deni Fakhrizal, Dian Eka Setyaningtyas

Abstract


Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu daerah endemis filariasis tipe Brugia malayi dengan 2 spesies nyamuk sebagai vektor yaitu Culex quinquefasciatus dan Mansonia uniformis. Perlu dilakukan penelitian di daerah endemis filariasis di Kabupaten Barito Kuala untuk mengetahui lebih lanjut keanekaragaman jenis nyamuk dan aktivitas nyamuk menghisap darah. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain potong lintang, dilakukan di dua desa endemis filariasis. Nyamuk dikumpulkan dengan metode Hand Catches dan Human Landing Collection. Jenis nyamuk yang ditemukan di Desa Antar Raya terdiri atas 12 spesies dari 3 genus. Spesies yang paling mendominasi adalah Cx. tritaeniorhynchus sedangkan di Desa Karya Jadi ditemukan sebanyak 10 spesies nyamuk dari 4 genus dengan spesies yang paling mendominasi yaitu Ma. uniformis. Ditemukannya Ma. Uniformis dan Cx. quinquefasciatus di wilayah penelitian mengindikasi daerah tersebut berisiko terjadi penularan filariasis. Aktivitas nyamuk Ma. uniformis menghisap darah pada sore dan pagi hari, sedangkan Cx. quinquefasciatus bervariasi dan bersifat endofilik dan eksofilik.

 

Kata kunci:  keanekaragaman, nyamuk, filariasis

 

 

ABSTRACT

Barito Kuala District is one of filariasis endemic area with two mosquito species known as Brugia malayi vector: Culex quinquefasciatus and Mansonia uniformis. Hence, it was necessary to conduct a study in endemic areas of filariasis in Barito Kuala to explore further about diversity of mosquito species and their biting activity. This was an observational study with cross-sectional design performed in two filariasis endemic villages. Mosquitoes were collected by Hand Catches and Human Landing Collection method. There were 12 mosquitoes species of 3 genus found in Antar Raya Village with Cx. tritaeniorhynchus as the most dominant species, while 10 mosquitoes species of 4 genus found in Karya Jadi Village with Ma. uniformis as dominant species. Mansonia uniformis and Cx. quinquefasciatus which found in this study indicated as risk factor for filariasis transmission. Biting activity of Ma. uniformis increased in the afternoon and the morning, while Cx. quinquefasciatus was vary, both endophilic and exophilic.

Keywords: diversity, mosquitoes, filariasis.

Keywords


Keanekaragaman; nyamuk; filariasis

References


Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia nomor 94 tahun 2014, tentang penanggulangan filariasis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.

Juhairiyah, Ridha MR, Fakhrizal D. Periodesitas non periodik Brugia Malayi di Kabupaten Tabalong. Vektora. 2017;9(2):79–86.

Safitri A. Identifikasi vektor dan vektor potensial daerah endemis filariasis di Kalimantan Selatan tahun 2011 [Laporan akhir penelitian).Tanah Bumbu: Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu; 2011.

Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten Barito Kuala endemis kaki gajah [Internet]. 2014. Available from: http://baritokualakab.go.id/bappeda/index.php/berita-lainnya/526-kabupaten-batola-endemis-kaki-gajah

World Health Organization. Global programme to eliminate lymphatic filariasis. New York: WHO; 2013. 39-41 p.

Rattanarithikul R, Harbach RE, Harrison BA, Panthusiri P, Coleman RE, Richardson JH. Illustrated keys to the mosquitoes of thailand. Vol. 41. Thailand: The southeast journal of tropical medicine and public health; 2010.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kunci identifikasi nyamuk mansonia. Jakarta: Direktorat Jenderal PP&PL; 2008.

Ramadhani T, Wahyudi BF. Keanekaragaman dan dominasi nyamuk di daerah endemis filariasis limfatik , Kota Pekalongan. J Vektor Penyakit. 2015;9(1):1–8.

Shriram AN, Krishnamoorthy K, Vijayachari P. Diurnally subperiodic filariasis among the Nicobarese of Nicobar district - epidemiology, vector dynamics & prospects of elimination. Indian J Med Res [Internet]. 2015 May 27;141(5):598–607. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4510758/

Yahya, Ambarita LP, Santoso. Aktivitas menggigit Mansonia uniformis (Diptera : Culicidae) di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. J Buski. 2015;5(3):140-8.

Ughasi J, Bekard HE, Coulibaly M, Delphina D, Gyapong J, Appawu M, et al. Mansonia africana and Mansonia uniformis are vectors in the transmission of Wuchereria bancrofti lymphatic filariasis in Ghana. Parasit Vectors. 2012;5(89):2–5.

Supriyono, Tan S, Hadi UK. Perilaku nyamuk Mansonia dan potensi reservoar dalam penularan filariasis di Desa Gulinggang Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan. Aspirator. 2017;9(1):1–10.

Irish SR, Moore SJ, Derua YA, Bruce J, Cameron MM. Evaluation of gravid traps for the collection of Culex quinquefasciatus, a vector of lymphatic filariasis in Tanzania. Trans R Soc Trop Med Hyg [Internet]. 2013 Jan 1;107(1):15–22. Available from: http://dx.doi.org/10.1093/trstmh/trs001

Yahya, Santoso, Salim M, Arisanti M. Deteksi Brugia malayi pada Armigeres subalbatus dan Culex quinquefasciatus yang diinfeksikan darah penderita filariasis dengan metode PCR. Aspirator. 2014;6(2):35–42.

Aure W, Torno M, Malijan RP, Cruz E, Hernandez L, Baquilod M, et al. Investigation of mosquitoes with emphasis on Aedes (Finlaya) joicilius, Putative Vector of Bancroftian filariasis on Panay Island, The Philippines. Southeast Asian J Trop Med Public Heal. 2016;47(5):912-26.

Sapada IE, Anwar C, Priadi DP. Environmental and socioeconomics factors associated with cases of cinical filariasis in Banyuasin District of South Sumatera , Indonesia. Int J Collab Res Intern Med Public Heal. 2015;7(6):132–40.

Zen S. Studi komunitas nyamuk penyebab filariasis di Desa Bojong Kabupaten Lampung Timur. Bioedukasi. 2015;6(2):129–33.

Hossain MA, Bashar K, Khondoker ZR, Razzak M. Biting rhythms of selected mosquito species (Diptera : Culicidae) in Jahangirnagar. J Mosq Res. 2015;5(8):1–5.

Windiastuti IA, Suhartono, Nurjazuli. Hubungan kondisi lingkungan rumah , sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat dengan kejadian filariasis di Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan. J Kesehat Lingkung Indones. 2013;12(1):51–7.

Ramadhani T, Soeyoko, Sumarni S. Culex Quinquifasciatus sebagai vektor utama filariasis limfatik yang disebabkan Wuchereria bancrofti di Kelurahan Pabean Kota Pekalongan. J Ekol Kesehat. 2010;9(3):1303–10.

Santoso, Yahya, Salim M. Penentuan jenis nyamuk Mansonia sebagai tersangka vektor filariasis Brugia malayi dan hewan zoonosis di Kabupaten Muaro. Media Litbangkes. 2014;24(4):181–90.

Haryuningtyas D, Subekti DT. Deteksi mikrofilaria / larva cacing brugia malayi pada nyamuk dengan polimerace chain reaction. Jjtv. 2008;13(3):240–8.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


BALABA was indexed by:

Visitor Number : View My Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License