Hubungan Program Penanggulangan Malaria dengan Kasus Malaria di Kabupaten Lahat Tahun 2016

Indah Margarethy, Aprioza Yenni, Tri Wurisastuti, Milana Salim, Santoso Santoso

Abstract


Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Lahat karena memiliki Annual Parasite Incidence (API) tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,94‰ pada tahun 2014 dan menurun pada tahun 2015 sebesar 2,57‰. Tingginya angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat sehingga diperlukan penanggulangan malaria secara komprehensif baik secara promotif, preventif, dan kuratif yang akan berdampak pada penurunan angka kesakitan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan program penanggulangan malaria dengan angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat. Desain penelitian ini adalah deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap 31 orang pengelola program malaria di puskesmas di Kabupaten Lahat. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh data kuantitatif, serta pengumpulan data sekunder malaria dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase puskesmas yang melakukan upaya promotif yaitu penyuluhan sudah cukup tinggi (93,5%), namun masih belum bermakna secara statistik terhadap stratifikasi wilayah berdasarkan Annual Paracite Insidence (API). Upaya preventif yang banyak dilakukan adalah pembagian kelambu dan yang terendah adalah penyebaran ikan pemakan jentik. Program penanggulangan malaria yang berhubungan dengan angka kesakitan berdasarkan angka API di Kabupaten Lahat adalah kegiatan pembagian obat Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) pada penderita positif malaria (p value = 0,008).

 

Kata kunci: program penanggulangan malaria, annual parasite incidine, artemisinin-base combination treatment, Lahat

ABSTRACT

Malaria is still a health problem in Lahat Regency because it has the highest Annual Parasite Incidence (API) in South Sumatera Province which is 2.94‰ in 2014 and decreased to 2.57‰ in 2015. The high rate of malaria morbidity occured in Lahat Regency so it is important to conduct comprehensive malaria prevention by promotive, preventive, and curative to decrease malaria morbidity rate. This study aims to determine the relationship between malaria prevention program with malaria morbidity rate in Lahat Regency. The design of this research was descriptive analytic with cross sectional approach. This research was conducted on 31 malaria program managers at puskesmas in Lahat Regency. The method used was interview using questionnaires to obtain quantitative data, while secondary malaria data was obtained from Lahat District Health Office. The results showed that the percentage of puskesmas that conducted promotive efforts by counseling was quite high (93,5%), but still not statistically significant to the stratification of area based on API-rate. The most prevalent preventive measures was the distribution of nets and the lowest was the spread of larvivorous fish. Malaria prevention programs which had significant impactto morbidity based on API-rate in Lahat was the distribution of Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) given to people with malaria positive (p value = 0,008).

Keywords: malaria control program, annual parasite incidence, artemisinin-base combination treatment, Lahat

 


Keywords


program penanggulangan malaria; annual parasite incidine; artemisinin-base combination treatment; Lahat

References


Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat. Laporan pengelola program malaria Kabupaten Lahat tahun 2014. Lahat: Dinkes Kab Lahat; 2014.

Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat. Laporan pengelola program malaria Kabupaten Lahat tahun 2015. Lahat: Dinkes Kab Lahat; 2015.

Ditjen PP dan PL. Buku saku menuju eliminasi malaria. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2011.

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman manajemen malaria. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.

Putra ND. Studi tentang pelayanan kesehatan preventif di Puskesmas Sei Merdeka Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara. eJournal Ilmu Pemerintah. 2015;3(4):1581-92.

Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kementerian Kesehatan ; 2014.

Iskandar WJ, Herqutanto. Hubungan insidens malaria dengan ketersediaan unit pelayanan kesehatan di Kecamatan Bayah, Provinsi Banten pada tahun 2006-2009. eJurnal Kedokt Indones. 2013;1(1):37-44.

Bauch JA, Gu JJ, Msellem M, et al. Perception of malaria risk in a setting of reduced malaria transmission: a qualitative study in Zanzibar. Malar J. 2013;12(75):1-10. doi:10.1186/1475-2875-12-75.

Rubianti I, Wibowo TA, Solikhah. Faktor-faktor risiko malaria di wilayah kerja Puskesmas Paruga Kota Bima Nusa Tenggara Barat. KES MAS (J Kesehat Masy). 2009;3(3):174-85. http://journal.uad.ac.id/index.php/KesMas/article/view/545.

Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: PT. Rineka Cipta; 2007.

Forero DA, Chaparro PE, Vallejo AF, et al. Knowledge, attitudes and practices of malaria in Colombia. Malar J. 2014;13:165. doi:10.1186/1475-2875-13-165.

Tang S, Ji L, Hu T, et al. Determinants of public malaria awareness during the national malaria elimination programme: a cross-sectional study in rural China. Malar J. 2016;15:372. doi:10.1186/s12936-016-1427-y.

Murhandarwati EEH, Fuad A, Sulistyawati, Wijayanti MA, et al. Change of strategy is required for malaria elimination: a case study in Purworejo District , Central Java Province , Indonesia. Malar J. 2015;14:318. doi:10.1186/s12936-015-0828-7.

Manalu HSP, Sp R, Sukowati S. Peran tenaga kesehatan dan kerjasama lintas sektor dalam pengendalian malaria. J Ekol Kesehat. 2014;13(1):50-8.

Sanders KC, Rundi C, Jelip J, Rashman Y, Smith Gueye C, Gosling RD. Eliminating malaria in Malaysia: the role of partnerships between the public and commercial sectors in Sabah. Malar J. 2014;13:24. doi:10.1186/1475-2875-13-24.

Ingabire CM, Alaii J, Hakizimana E, Kateera F, Muhimuzi D, Nieuwold I, et al.. Community mobilization for malaria elimination : application of an open space methodology in Ruhuha sector , Rwanda Community mobilization for malaria elimination : application of an open space methodology in Ruhuha sector , Rwanda. Malar J. 2014;13:167. doi:10.1186/1475-2875-13-167.

Salman A, Pinontoan OR, Keeknusa J. Evaluasi pelaksanaan program eliminasi malaria di Kabupaten Halmahera Timur. J Community Heal. 2017;2(5):106-17.

Pinchoff J, Larsen DA, Renn S, et al. Targeting indoor residual spraying for malaria using epidemiological data: a case study of the Zambia experience. Malar J. 2016;15:11. doi:10.1186/s12936-015-1073-9.

Pusat Data dan Informasi. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan: epidemiologi malaria di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2011.

Rahmadiliyani N, Noralisa. Hubungan penggunaan kelambu berinsektisida dan kejadian malaria di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2013. J Buski. 2013;4(3):128-32.

Kinansi RR, Mayasari R, Pratamawati DA. Pengobatan malaria kombinasi artemisinin (ACT) Di Provinsi Papua Barat tahun 2013. BALABA. 2017;13(1):43-54. doi:10.22435/blb.V13i1. 4921. 43-54.

Mau F, Desato Y. Studi kualitas (quality assurance) pemeriksaan mikroskopis malaria di Pulau Sumba tahun 2009. J Ekol Kesehat. 2013;12(2):79-86.

Abreha T, Alemayehu B, Tadesse Y, et al. Malaria diagnostic capacity in health facilities in Ethiopia. Malar J. 2014;13:292

Watsierah CA, Ouma C. Access to Artemisinin-Based Combination Therapy (ACT) and quinine in Malaria Holoendemic Regions of Western Kenya. Malar J. 2014;13:290. doi:10.1186/1475-2875-13-290.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


BALABA was indexed by:

Visitor Number : View My Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License